| Article Index |
|---|
| FMEA |
| FMEA |
| All Pages |
FMEA (Failure moda and effect analysis) adalah metoda untuk mengidentifikasi dan menganalisa potensi kegagalan dan akibatnya yang bertujuan untuk merencakan proses produksi secara mantap dan dapat menghindari kegagalan proses produksi dan kerugian yang tidak diinginkan.
Cara kerja FMEA:
Dengan megidentikasi kegagalan yang mungkin terjadi terjadi Memberi skala prioritas dari setiap jenis kegagalan Melakukan tindakan perbaikan yang pada akhirnya: dapat mencegah terjadinya kegagalan. Filosofi dasar dari FMEA adalah: CEGAH SEBELUM TERJADI FMEA baik sekali digunakan pada sistem manajamen mutu untuk jenis industri manapun. Standar ISO/TS-16949 (standar sistem manajemen mutu untuk industri automotive) mensyaratkan dilakukannya FMEA pada saat perancangan produk maupun perancangan proses produksi. ISO-9001 tidak secara explicit mensyaratkan dilakukannya FMEA. Meski begitu, baik sekali bila perusahaan menerapkannya untuk memenuhi persyaratan tentang tindakan pencegahan.
Dua Jenis FMEA
Design FMEA
Analisa kegagalan produk selama penggunaan dan akibatnya
Process FMEA
Analisa jenis kegagalan proses produksi dan akibatnya
Persiapan FMEA
Membentuk team multi disiplin
Anggota team FMEA dapat terdiri dari:
Process engineer
Industrial Engineer
Design Engineer
Operator Produksi
Tooling engineer
Maintenance Engineer
Quality Engineer
Lain-lain, termasuk pemasok, marketing
Menyusun/menyiapkan Process flow chart:
Gambaran seluruh tahapan untuk realisasi produk
Mencakup
Fabrikasi
Inspeksi
Transportasi
Penyimpanan
Process flow chart Membantu mengarahkan perhatian kepada suatu tahapan terbatas
Memahami persyaratan pelanggan
Persyaratan pelanggan eksternal
Pahami drawing
Pahami Penggunaan
Kumpulkan Umpan balik
Persyaratan pelanggan internal
Pahami bagaimana proses berikutnya bekerja
Kumpulkan umpan balik
FMEA dimulai dengan mengidentifikasi berbagai jenis kegagalan dan akibatnya. Langkah selanjutnya adalah:
-
menentukan nilai severity,
-
mencari penyebab,
-
menentukan nilai Occurance,
-
mengidentifikasi sistem control yang sudah ada (sudah ditetapkan),
-
menentukan nilai detection,
-
menentukan nilai RPN (Risk priority number) dan akhirnya
-
menentukan tindakan perbaikan bila nilai RPN tinggi.
Definisi:
Severity: tingkat bahaya atau kerugian yang timbul. Score tinggi bila bahaya tinggi atau kerugian besar
Occurance: seberapa banyak/sering kegagalan mungkin akan terjadi. Score tinggi bila sering/banyak.
Detection: tingkat deteksi, kemampuan sistem yang dalam mendeteksi terjadinya kegagalan. Score tinggi bila kemampuan mendeteksi rendah.
Ketiga nilai tersebut dikalikan dan menghasilkan RPN (risk priority number)
RPN = Severity x Occurance x Detection
Makin tinggi RPN, makin besar kebutuhan untuk melakukan tindakan perbaikan.
Kapan FMEA?
KATA KUNCI: SEDIA PAYUNG SEBELUM HUJAN
Pada waktu perencanaan proses:
Dilakukan setelah draft dari production flow chart dan sistem pengendalian produksi terbentuk, Sebelum dilakukannya produksi massal.
Pada waktu perancangan produk:
Dilakukan setelah sebelum pembuatan protype produk.
Pada saat produksi massal telah berjalan atau produk telah dihasilkan, FMEA dapat terus diperbaharui sesuai dengan masukan/informasi baru yang diperoleh.







