Logika Standar Sistem Manajemen Mutu ISO-9001 vol 2: Quality Control

Sama dengan kata 'quality', kata  'quality control' mempunyai definisi yang sangat beragam. Dalam 'Juran trilogy', quality control berarti menjaga agar proses produksi atau proses pelayanan tetap berada pada 'zona of quality control'. Letak zona tersebut sangat tergantung pada aktifitas quality planning.

Bila pada qulity planning digunakan metoda statistik, lebar dari dari zona of quality control mestinya sudah diperkirakan. Dalam statistical process control zona ini disebut zona normal. Misalnya, dalam quality planning ditentukan bahwa normalnya tingkat reject akan bervariasi dari 90 PPM sampai 105 PPM. Atau, variasi ukuran dimensi X dari produk, normalnya adalah dari 19,96 mm sampai dengan 20,04 mm. Itu berarti, aktifitas quality control harus menjaga agar tingkat reject tidak melebihi 105 PPM atau, dalam contoh batas normal dimensi, ukuran produk tidak boleh melebih 20,04 dan tidak boleh kurang dari 19,96 mm. Biasanya, zone of quality control yang dibuat diperkirakan dalam aktifitas quality planning ini akan di evaluasi lagi pada saat proses produksi berlangsung. Mungkin saja zona of quality control yang sedikit berbeda didapatkan.

Juran trilogy diagram

Juran Trilogy Diagram
download gambar bila tak tampil dalam email: www.ibrosys.com/images/stories/0905/juran-trilogy.jpg

Dalam industri automotive, dikenal istilah Cpk. Parameter ini tak lain adalah ukuran dari zona of quality control yang dapat secara mudah menggambarkan dimana dan selebar apa zona of quality control.

Intinya, zona quality control sebagai 'batasan-batasan yang masih dapat dimaklumi', baik dalam hal spesifikasi produk maupun tingkat reject. Quality control adalah upaya untuk membuat proses produksi tetap berada dalam zona ini.

Apa yang harus dikontrol?

Aktifitas quality control tentu harus mempertimbangkan faktor-faktor apa yang mempengerahui kesesuaian produk. Setiap proses mempunyai faktor pengaruh dominan yang berbeda-beda:

Set-up dominant, berarti kesesuaian produk sangat tergantung pada hasil set-up mesin atau set-up pekerjaan. Proses jenis ini memerlukan perhatian pada hasil set-up, baik parameter proses maupun produk awal yang dihasilkan.

Time dominant, berarti kesuaian produk sangat dipengaruhi oleh perubahan-perubahan antar waktu. Misalnya keausan tool, perubahan suhu dan lain-lain.

Component dominant, berarti kesesuaian produk sangat tergantung dari komponen datau material yang membentuk produk.

Worker dominant, berarti kesuaian produk sangat dipengaruhi oleh worker, baik skill maupun aptititude-nya (ketelitian, kesigapan).

Information dominant, berarti kesesuaian produk sangat dipengaruhi oleh informasi. Misalnya untuk proses dimana jenis produk yang hampir sama diproduksi berganti-ganti. Ketepatan waktu dalam mengganti informasi dan akurasi informasi tentang produk akan mempengaruhi kesesuaian produk yang diproduksi.

Tentu, proses bisa saja mempunyai lebih dari satu faktor yang mempengaruhi mutu. Tugas dari perencana mutu adalah menentukan mana faktor yang paling dominan untuk diprioritaskan dalam pengontrolan, mana faktor yang kurang dominan yang tidak perlu mendapat perhatian berlebihan. Mengenal faktor dominan yang mempengaruhi kesesuaian produk akan dapat menghindari perencana mutu salah sasaran dalam melakukan pengontrolan.

Untuk pemeriksaan produk, perencana mutu harus mempertimbangkan tingkat kepentingan karakteristik produk dan juga kemampuan proses dalam membentuk karakteristik tersebut. Beberapa karakteristik yang menyangkut safety dan fitness mungkin memerlukan tingkat pemeriksaan yang lebih tinggi. Hal itu juga harus dilihat dari kemampuan proses-nya. Bila proses sudah mapan, dari data historis mampu membentuk karakteristik produk secara konsisten sesuai dengan persyaratan, tingkat pemeriksaan mungkin dapat diperlonggar.

Faktor apa saja yang mempengaruhi kesesuaian produk, parameter apa dan karakteristik produk yang mana yang harus dikontrol tentunya sudah harus ditetapkan pada tahapan quality planning. Standar sistem manajemen mutu ISO 9001 pun menyatakan demikian. Dalam klausul 7.5.1, 'Pengendalian produksi dan penyediaan jasa, disebutkan bahwa organisasi harus merencanakan (tentunya dalam aktifitas quality planning) dan melaksanakan produksi dan penyediaan jasa dalam kondisi terkendali. Kondisi terkendali tak lain adalah kondisi dimana proses berada dalam zona of quality control.

Persyaratan lain dalam standar sistem manajemen mutu ISO-9001 tentang quality control adalah pada klausul 8.2.3 (Pengukuran proses) dan 8.2.4 (Pengukuran produk). Pada bagian 'catatan' dalam klausul 8.2.3 (tambahan di versi 2008), disebutkan : 'Dalam menentukan metoda yang sesuai, disarankan agar organisasi mempertimbangkan type dan tingkat pemantauan atau pengukuran yang layak untuk setiap proses dalam hubungannya dengan pengaruh proses terhadap pencapaian kesesuaian persyaratan produk ...' Persyaratan ini tak lain adalah panduan agar dalam menentukan paramter proses apa yang harus dikontrol, perencana mutu harus mempertimbangkan faktor dominan apa dalam proses yang perlu mendapat perhatian khusus.

Aktifitas quality control juga mencakup tindakan koreksi apabila proses produksi keluar dari zona of quality control. Akan selalu ada masalah yang tidak terantispasi, seberapa baikpun quality planning dilakukan. Akan selalu ada 'sporadic spike' dalam diagram juran trilogy. Maka yang harus dilakukan adalah sebuah proses yang sistematis yang dapat mengatasi masalah tersebut, menghilangkan penyebabnya sehingga dapat mencegah terulangnya masalah yang sama di masa depan. Dalam standar sistem manajemen mut ISO-9001 ini diatur dalam klausul 8.2.5. 'Tindakan Koreksi'. Disitu disebutkan bahwa tindakan koreksi harus dilakukan secara metodis, dari peninjauan ketidaksesuaian, mencari penyebab sampai pada evaluasi efektifitas tindakan koreksi. Bila ini dilakukan, organisasi akan memiliki proses produksi atau proses pelayanan yang makin matang dari waktu ke waktu, tidak terganngu dengan masalah-masalah lama yang berulang.

Salah satu masalah umum dalam menerapkan sistem manajemen mutu ISO-9001 di area quality control adalah menentukan apakah suatu kondisi merupakan 'sporadic spike' atau sebetulnya hanya titik acak yang masih ada dalam zona of quality control. Misalnya, apakah reject sebesar 0,05 % pada tanggal x itu masih berada dalam zona of quality control, atau dia merupakan sporadic spike yang harus diikuti dengan tindakan koreksi? Apakah hal itu masih dianggap normal atau tidak normal? Pengetahuan tentang statistical process control dan penerapannya dapat membantu menjawab pertanyaan ini, yang mungkin ada setiap hari. Bila pengendali mutu menggunakan SPC - secara benar, tentu, batas-batas zona of quality control itu akan dapat dibaca dengan mudah.

Ir. Iim Ibrohim


Anda dapat memperoleh informasi tentang informasi terbaru di ibrosys.com dengan menjadi anggota ibrosys.com (silahkan create accout). Dengan menjadi anggota Anda menerima newsletter secara berkala tentang sistem manajemen, sekaligus dapat mendiskusikan berbagai hal tentang sistem manajemen di Forum.
Untuk menghubungi Ir. Iim Ibrohim terkait pelaithan dan program konsultasi dalam bidang manajemen mutu, lingkungan dan keselamatan kerja, silahkan email ibrohim@ibrosys.com