Afiliasi

    Resource link

    Manajemen K3

    Recent Announcements

    • Mengenal Ergonomi Ergonomi berasal dari bahasa latin; ergon (kerja) dan nomoi (hukum alam). Secara sederhana ergonomi berarti ilmu yang mempelajari bagamana pekerjaan seharusnya dilakukan agar sesuai dengan kondisi alamiah manusia. Ergonomi jelas ...
      Posted Jul 13, 2013, 10:30 AM by Iim Ibrohim
    • Mengelola MSDS Tumpukan MSDS biasanya menjadi tumpukan yang diabaikan karyawan. Tak tersentuh di rak penyimpanan. Ada dua kemunkinan: karyawan sudah memahami dengan baik bagaiama bekerja dengan bahan-bahan kimia, atau mereka justru ...
      Posted Jul 12, 2013, 10:28 AM by Iim Ibrohim
    • Pekerja Muda Lebih Rentan Terhadap Kecelakaan Kerja Fakta ini penting bagi setiap organisasi yang ingin mencapai kinerja K3 yang baik: Pekerja berusida muda lebih rentan terhadap kecelakaan kerja. Penenilitan di Canada: karyawan baru, muda dan belum berpengalaman ...
      Posted Jul 13, 2013, 10:31 AM by Iim Ibrohim
    • Mengenali Bahaya-bahaya dalam Pekerjaan Dalam penerapan sistem manajemen K3, ‘bahaya’ adalah inti dari semua persoalan. Jenis bahaya, tingkat kemungkinan kecelakaan dan resikonya menentukan berbagai komponen lain dalam sistem seperti kebijakan, sasaran, kontrol operasional, sumber ...
      Posted Jul 13, 2013, 10:35 AM by Iim Ibrohim
    • Peran Atasan dalam Mengembangkan Kesadaran K3 Mengembangkan kesadaran K3 pada setiap karyawan tidak cukup dengan satu dua kali briefing K3, setumpuk prosedur dan aturan kerja, bahkan tak cukup dengan penggunaan kekuasaan yang berupa ancaman dan hukuman ...
      Posted Jul 12, 2013, 10:30 AM by Iim Ibrohim
    Showing posts 1 - 5 of 5. View more »

    Mengenal Ergonomi

    posted Jun 24, 2013, 9:14 PM by Iim Ibrohim   [ updated Jul 13, 2013, 10:30 AM ]


    Ergonomi berasal dari bahasa latin; ergon (kerja) dan nomoi (hukum alam). Secara sederhana ergonomi berarti ilmu yang mempelajari bagamana pekerjaan seharusnya dilakukan agar sesuai dengan kondisi alamiah manusia.
    Ergonomi jelas penting untuk dipertimbangkan dalam merancang setiap pekerjaan. Pekerjaan yang dirancang dengan mempertimbangkan faktor ergonomi dapat menghindari terjadinya cepat lelah dan cedera otot, yang akhirnya meningkatkan produktifitas pekerja.

    Hal mendasar dalam ergonomi

    Hal mendasar dalam ergonomi adalah mengupayakan agar sikap badan selalu dalam posisi atau mudah kembali dalam posisi netral. Yang dimaksud posisi netral adalah posisi dimana otot dalam posisi yang cenderung relax.

    Sikap netral dasar:

    • Kepala tegak dan menghadap ke depan.
    • Punggung dalam posisi tegak
    • Lengan atas terjuntai dengan siku mendekat samping badan dengan nyaman.
    • Lengan bawah paralel dengan lantai
    • Tangan membentuk satu garis lurus dengan lengan bawah
    • Kaki terbuka selebar bahu bila bekerja sambil berdiri
    • Paha sejajar lantai, lutut membentuk 90 derajat dan kaki menapak lantai bila bekerja sambil duduk.

    Bekerja sambil berdiri


    Bekerja sambil berdiri dalam waktu beberapa jam, walaupun dalam poisisi yang baik tetap akan menimbulkan kelelahan lebih cepat daripada duduk. Pada lantai yang keras, berjalan sama dengan memukul palu di telapak kaki di setiap langkah. Beberapa hal yang dapat mengurangi kelelahan dan menjaga agar pekerja dalam kondisi yang baik pada saat bekerja sambil berdiri dalam waktu yang lama:

    • Pemakaian sepatu yang baik: Sepatu yang baik adalah sepatu yang pas dengan gesekan minimal dan sol yang baik.
    • Menggunakan anti fatigue mat: Anti fatigue mat bisa karpet, karet, kayu atau bentuk lain yang dapat memberikan sedikit elastisitas pada lantai. Perlu diperhatikan bahwa pemasangan anti fatique mat dapat menimbulkan bahaya baru seperti tersandung bila tidak dipasang dengan baik. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah anti fatique mat berbeda dengan anti slip mat. Anti slip mat membuat sepatu selalu berhati dengan tiba tiba saat melangkah dan menyebabkan gesekan lebih besar antara kaki dan sepatu yang dapat menimbulkan masalah baru.
    • Perancangan kerja yang memungkinkan pekerja dapat merubah posisi berdirinya dengan bebas.

    Bekerja dengan komputer

    Bekerja dengan komputer harus dirancang sesuai dengan 7 sikap netral dasar distas;
    • Tinggi keyboard dan kursi, dan lengan kursi diatur agar siku dapat membentuk kurang lebih 90 derajat dengan lengan pekerja didukung oleh lengan kursi.
    • Paha sejajar dengan lantai
    • Telapak kaki menyentui lantai dengan nyaman. Bila diperlukan, footrest disediakan sulit untuk mengatur ketinggian meja
    • Sandaran kursi harus memungkinkan agar badan dalam posisi yang tegak.
    • Tinggi monitor diatur agar kepala tetap tegak

    Hal lain yang perlu diperhatikan dalam bekerja dengan komputer:

    • Jarak monitor dengan mata kurang lebih sama dengan jarak jangkauan tangan
    • Tidak ada lampu yang langsung mengarah mata atau terpantul ke mata lewat layar monitor

    Ergonomi dalam sistem manajemen keselamatan kerja

    Dalam standar OHSAS-18001, salah satu persyaratan adalah organisasi harus mengidentifikasi bahaya, menilai resiko dari bahaya dan menerapkan kontrol yang diperlukan. Secara umum, bahaya terkait dengan ergonomi adalah sikap kerja. Akibat yang mungkin muncul adalah gangguan muscoskeletal (musculoskeletal disorders – MSDs) yang mencakup gangguan pada otot, sendi, tendon, ligamen dan saraf). Besarnya resiko bahaya tentu harus memperhatikan berapa sering pekerjaan dilakukan dan tingkat keparahan dari muscoloskeletal disorders.

    Mengelola MSDS

    posted Jun 24, 2013, 9:01 PM by Iim Ibrohim   [ updated Jul 12, 2013, 10:28 AM ]

    Tumpukan MSDS biasanya menjadi tumpukan yang diabaikan karyawan. Tak tersentuh di rak penyimpanan. Ada dua kemunkinan: karyawan sudah memahami dengan baik bagaiama bekerja dengan bahan-bahan kimia, atau mereka justru tidak memahami MSDS dan kegunaannya.

    Fungsi MSDS dalam sistem manajemen K3 adalah sebagai safety tool, sebagai alat komunikasi tentang bahaya-bahaya yang terkandung dalam bahan-bahan yang digunakan. Terutama untuk organisasi yang menggunakan banyak bahan kimia, MSDS seharusnya dianggap sebagai media informasi yang menjadi acuan penting bagi karyawan. Karena pentingnya, pelatihan-pelatihan tentang bagaimana MSDS perlu dilakukan untuk menjamin pemahaman karyawan tetnang informasi penting yang terkandung dalam MSDS.

    Pelatihan MSDS

    Pelatihan tentang MSDS diperlukan pada saat:

    • Penggunaan bahan kimia baru
    • Adanya cara baru dalam penggunaan bahan kimia yang sudah familiar
    • Perubahan MSDS untuk bahan kimia yang sudah familiar, entah dalam format ataupun dalam informasi yang terkandung,
    • Adanya karyawan baru yang belum familiar dengan bahan-bahan kimia yang digunakan
    • Adanya bukti-bukti bahwa karyawan tidak menangani bahan kimia dengan cara yang aman.

    Pun bila tidak ada hal-hal tersebut diatas, pelatihan secara berkala perlu dilakukan untuk menjamin terpeliharanya pemahaman yang baik karyawan tentang MSDS.

    Menangani perbedaan format MSDS

    Ada beberapa format MSDS yang digunakan oleh berbagai produsen bahan kimia meskipun sudah ada upaya penyeragaman. Perbedaan format ini sering menimbulkan kesulitan bagi karyawan untuk memahami informasi yang terkandung dalam MSDS. Untuk menangangi hal tersebut, salah satu cara yang bisa diambil adalah membuat satu sessi dalam pelatihan tentang MSDS yang membandingkan beberapa format yang berbeda, dan menjelaskan informasi-informasi yang diperlukan karyawan dalam masing-masing format.

    Peninjauan dan pengendalian dokumen MSDS

    Karena MSDS adalah salah satu acuan kerja, maka MSDS menjadi salah satu objek pengendalian dokumen. Sama seperti tujuan pengendalian dokumen umumnya, tujuan dari pengendalian MSDS adalah:

    • Agar MSDS tersedia di lokasi-lokasi kerja yang memerlukan acuan bagaimana menangani bahan-bahan kimia.
    • Agar MSDS yang digunakan adalah MSDS yang terbaru. Terbaru dalam arti, bukan MSDS untuk bahan kimia yang sudah diganti, atau bukan MSDS versi lama yang telah diperbaharui.

    Pekerja Muda Lebih Rentan Terhadap Kecelakaan Kerja

    posted Jun 24, 2013, 8:59 PM by Iim Ibrohim   [ updated Jul 13, 2013, 10:31 AM ]


    Fakta ini penting bagi setiap organisasi yang ingin mencapai kinerja K3 yang baik: Pekerja berusida muda lebih rentan terhadap kecelakaan kerja. Penenilitan di Canada: karyawan baru, muda dan belum berpengalaman mengalami kecelakaan kerja 5 kali lebih banyak dari pekerja lain dalam 4 minggu pertama kerja.

    Di Amerika serikait, didapati bahwa pekerja muda dengan usia dibawah 25 tahun mengalami kecelakaan kerja 2 kali lebih banyak dari pekerja yang lebih dewasa.

    Mengapa pekerja muda lebih rentan terhadap kecelakaan? Beberapa faktor berikut diduga menjadi penyebabnya:

    - Pengetahuan

    - Keterampilan

    - Pemahaman terhadap resiko keselamatan, aturan dan prosedur keselamatan

    - Pengendalian diri

    Faktor lain yang diduga menjadi penyebab adalah kelelahan. Walaupun kelelahan dapat menjadi penyebab kecelakaan bagi semua usia, pekerja muda lebih berpotensi untuk lebih cepat mencapai kelelahan di tempat kerja karena kegiatan lain diluar pekerjaan seperti kehidupan sosial ‘anak muda’, sekolah malam sampai kemungkinan pekerjaan ganda. Alkohol dan obat-obatan juga tak bisa diabaikan sebagai faktor penyebab tingginya kecelakaan pekerja usia muda.

    Pelatihan dan Supervisi bagi Pekerja Berusia Muda

    Fakta di atas tentunya membuat para trainer yang memberikan pelatihan tentang K3 harus mempertimbangkan perhatian khusus kepada pekerja berusia muda. Trainer harus:

    - Memberikan instruksi yang jelas tentang prosedur yang harus diikuti, termasuk tindakan-tindakan pencegahan kecelakaan. Trainer juga harus dapat menjelaskan secara logis dan mudah diterima mengapa prosedur dan tindakan-tindakan pencegahan diperlukan.

    - Meminta pekerja muda untuk mengulangi setiap instruksi yang diberikan dan membuka diri untuk setiap pertanyaan.

    - Mendemonstrasi bagaimana melakukan pekerjaan dengan cara yang benar dan aman, menggunakan alat pelindung diri yang diperlukan dan mengoperasikan mesin termasuk:

    o penggunaan pelindung mesin,

    o cara mengaktifkan dan mematikan mesin.

    o Fitur-fitur darurat

    o Cara mengumpan dan memindahkan material yang aman

    o Cara melaporkan masalah mesin dan peralatan

    - Meminta pekerja muda untuk mempraktekkan apa yang telah didmonstrasikan.

    - Memperbaiki setiap kesalahan yang dilakukan

    Pengawasan dan keteladanan

    Pengawasan dan keteladanan memegang peranan penting untuk membangun kesadaran, terlebih bagi pekerja muda dengan kesadaran yang masih sangat ‘mentah’. Pengawasan perlu diberikan pada beberapa bulan pertama. Pengawasan untuk membangun kesadaran juga harus disertai dengan memberikan umpan balik yang membangun sambil secara terus menerus menjelaskan alasan-alasan logis pentingnya bekerja dengan cara yang benar dan aman. Keteladanan tentu juga menjadi keharusan. Tak akan bisa membangun kesadaran untuk melakukan suatu hal bila atasan pekerja dan juga pekerja senior melakukan hal yang lain.

    Mengenali Bahaya-bahaya dalam Pekerjaan

    posted Jun 24, 2013, 8:58 PM by Iim Ibrohim   [ updated Jul 13, 2013, 10:35 AM ]

    Dalam penerapan sistem manajemen K3, ‘bahaya’ adalah inti dari semua persoalan. Jenis bahaya, tingkat kemungkinan kecelakaan dan resikonya menentukan berbagai komponen lain dalam sistem seperti kebijakan, sasaran, kontrol operasional, sumber daya dan prosedur-prosedur yang dibutuhkan.

    Bahaya bisa bermacam-macam dan bisa muncul dari berbagai sumber. Setiap jenis industri mempunyai bahaya-bahaya yang mungkin berbeda-beda. Meski begitu, beberapa kategori bahaya berikut adalah kategori yang umum ada, yang bisa menjadi panduan dasar dalam mengenali bahaya apa yang ada dalam setiap pekerjaan.

    Bahaya fisika

    Bahaya fisika adalah setiap gerakan dan setiap aliran enerji yang punya potensi merugikan manusia. Masuk dalam jenis bahaya ini adalah bahaya karena aliran listrik, bahaya mekanis peralatan, getaran, suara (yang memekakkan), enerji potensial gravitasi, panas dan radiasi.

    Bahaya mekanik adalah bagian dari bahaya fisika yang disebabkan gerakan mekanis seperti putaran bagian dari mesin. Bahaya ini mudah diamati. Setiap ada gerakan dari mesin atau bagian dari mesin, entah linear ataupun radial, yang mempunyai kemungkinan kontak dengan pekerja, maka itulah bahaya, terlepas dari seberapa besar kemungkinan tersebut dan terlepas dari apakah mekanisma pencegahan kontak sudah diterapkan atau belum.




    Bahaya kimia

    Bahaya kimia adalah bahaya karena sifat dari bahan beberapa bahan kimia yang bisa merugikan pekerja. Bahaya kimia tidak bisa langsung diamati seperti bahaya mekanik. Harus tahu lebih dahulu sifat dari bahan kimia yang ada. Berbagai jenis solvent (pembersih pelarut), bensin, fumes (seperti pada proses pengelasan), partikulat asbestos, siliki adalah beberapa contoh jenis bahaya ini. Cara paling mudah untuk mengetahui apakah suatu bahan kimia berbahaya atau tidak adalah melihat MSDS (material safety datasheet) – yang menurut undang-undang harus ada pada setiap penyimpanan bahan kimia. Dari situ dapat diketahui sifat-sifat zat kimia (seperti mudah mengiritasi, mudah terbakar, mudah meledak, mudah menghasilkan oksigen, menimbulkan kanker dan lain-lain).


    Bahaya biologis

    Yang termasuk dalam bahaya biologis adalah hewan liar, kuman, virus, jamur. Bahaya jenis ini adalah bahaya yang umum di rumah sakit. Bahaya juga mungkin ada pada aktifitas penyediaan makanan / katering dan pada organisasi yang area operasionalnya memungkinkan masuknya hewan liar.

    Bahaya rancang kerja


    Bahaya ini muncul karena lemahnya perancangan cara kerja yang dapat mengakibatkan kerugian kesehatan dalam jangka waktu panjang. Pekerjaan yang dilakukan dengan sikap badan yang tidak netral secara terus menerus atau pembebanan terus menerus pada salah satu anggota badan adalah contoh dari jenis bahaya ini. Untuk dapat mengetahui bahaya-bahaya jenis ini diperlukan paling tidak tidak pengetahuan dasar tentang ergonomi dan sikap netral anggota badan.

    Setelah mengenal Bahaya

    Tentu tidak cukup hanya mengenal bahaya. Tahapan selanjutnya untuk menciptakan tempat kerja yang aman dan sehat adalah melakukan penilaian tingkat kemungkinan pekerja kontak dengan bahaya atau terkena bahaya dan tingkat keparahan yang diakibatkannya bila hal tersebut terjadi. Hasil akhirnya adalah penerapan kontrol operasional yang dibutuhkan, entah dengan penghilangan sama sekali bahaya, penggantian material, rekayasa teknik,  kontrol administratif dan/atau penggunaan alat pelindung diri.

    Peran Atasan dalam Mengembangkan Kesadaran K3

    posted Jun 24, 2013, 8:56 PM by Iim Ibrohim   [ updated Jul 12, 2013, 10:30 AM ]

    Mengembangkan kesadaran K3 pada setiap karyawan tidak cukup dengan satu dua kali briefing K3, setumpuk prosedur dan aturan kerja, bahkan tak cukup dengan penggunaan kekuasaan yang berupa ancaman dan hukuman. Kesadaran adalah masalah kepercayaan dan nilai-nilai yang ada dalam kepala, yang merubahnya jauh lebih sulit dari merubah bentuk baja. bentuk-bentuk pemaksaan bisa merubah apa yang dilakukan, tapi tidak bisa merubah apa yang ada dalam pikiran.

    Pengembangan kesadaran K3, sama dengan kesadaran untuk untuk lain, membutuhkan proses persuasi rasional dan pembentukan kesan pentingnya nilai-nilai yang ingin dikembangkan.Disinilah peran kunci setiap atasan, mulai dari line manajer sampai pucuk  pimpinan. Peran tersebut dapat dijabarkan dalam 5 peran kunci setiap atasan dalam pengembangan kesadaran K3:

    Memberi Pesan berkelanjutan
    Yang penting selalu diulang-ulang. Yang tidak penting hanya muncul sekali lalu hilang. Begitu panduan praktis orang televisi. Bahkan bila pada dasarnya berita kurang penting, orang televisi mampu merubahnya menjadi penting dengan mengulangi dan mengulangi berita.Panduan tersesbut harus berlaku juga bagi seorang atasan. Pengulangan pesan-pesan secara persuasif tentang kesehatan dan keselamatan kerja secara terus menerus akan membawa dampak meningkatnya skala kepentingan  K3 didalam pikiran setiap karyawan.

    Memberi Keteladanan
    Ing ngarso sung tulodo. Didepan memberi keteladanan, perilaku baku seorang pemimpin. Contoh nyata selaras pesan kata akan membuat pemahaman yang abstrak menjadi pesan visual yang lebih berkesan. Sebaliknya, 1 kali contoh keliru akan menghancurkan ribuan kali pesan kata.

    Memberi dukungan
    Selalu ada hambatan dalam menerapkan kesadaran K3 yang baru terbentuk. Pemberian dukungan bukan hanya menghindari kembalinya cara lama dilakukan, tetapi sekaligus - sekali lagi - penyampaian pentingnya K3. Dengan memberi dukungan, mencari solusi bersama untuk mengatasi hambatan dalam  penerapan cara kerja yang aman, seorang manajer seolah berkata, 'Ini penting buat kamu, saya dan kita semua. Itu makanya kita semua siap membantu'.

    Melakukan Pemantauan

    Pesan yang disampaikan bisa salah diterima. Itu potensi kegagalan komunikasi umum yang harus dicermati. Maka pemantauan dimaksudkan untuk memberi umpan balik apakah pesan yang diterima seusai dengan yang dimaksud? Apakah sudah cukup tertanam dalam pikiran karyawan? Pemantauan juga memungkinkan masalah teridentifikasi secara dini, mencegah kekeruhan sampai kemuara, dimana perbaikan sudah terlambat untuk dilakukan.

    Memberi penghargaan

    'Kita bisa' adalah pesan utama yang sampai kepada karyawan ketika seorang atasan memberinya penghargaan atas suatu keberhasilan. Keberhasilan, walaupun kecil, bisa membangkitkan kepercayaan diri dan tekad yang lebih besar untuk mencapai keberhasilan selanjutnya. Perhatian akan keberhasilan, memberi selamat dan penghargaan atas keberhasilan suatu tahapan penerapan sistem manajemen K3, penerapan cara kerja kerja  juga mengandung pesan yang jelas bahwa atasan dan pihak manajemen menganggap hal tersebut penting bagi semua karyawan dan bagi perusahaan.

    1-5 of 5